Seharian Itu

Aku menyukai keramaian. Jika mereka mengatakan ramai itu melelahkan, bagiku ia mengasyikkan. Disana aku bisa menyapa setiap pasang mata yang menoleh padaku. Pun ia tidak menyapa, aku akan memanggilnya dengan panggilan kesukaanku. Adalah sebuah peristiwa kita bisa dikumpulkan lagi disini teman. Seonggok gedung ini, dahulunya hanya dapat kita nikmati saat ia masih merupakan sketsa-sketsa sang arsitektur. Tak ingatkah dulu kita sering memperhatikan pekerjanya dari jauh. Lalu bertanya-tanya, benarkah ia akan menjadi bagian dari kampus hijau ini. Hospital.

Kebiasaan. Tak terlepas dari biasanya keseharian kita di Fkep dulu. “Malepoh” “malantai”. Ingatkah jika kita menunggui dosen, menghafal sesuatu yang harus dihafal, diskusi kelompok, nunggu antrian ujian praktek, atau hanya sekedar bercengkerama melempar jenuh. Aduhai teman, semua memori itu terlihat jelas di hayalku. Dan kini, lagi-lagi kita dihadapi dengan test ini test itu, melantai bersama. Bahas membahas yang masih melekat dikepala, sesekali mata dan tangan melirik buku yg menjadi rujukan bacaan.

Adalah kemarin aku mendapati diriku melupai semua yang mestinya tak dilupa. Seorang teman datang menyapa “ulia”. Aku bukannya membalas “hay”, malah mengernyitkan dahi bertanya-tanya siapa ini? Singkat ia menjelaskan siapa dia, dimana terakhir bertemu, sedang aku masih lupa siapa namanya. Tak lama temannya pun menoleh kepadaku “auu”. Yang ini lagi siapa pula namanya, ketemu dimana, manggil gue aulia lagi,, halaah..

Sebelumnya pun saat ngantri dalam barisan panjang ngabsen. Seorang kakak berbaju putih melambaikan tangan. “uliaaa, dima kini”. Cengengesan aku menjawab, “masih di tampek lamo kk”. Membalikkan muka lalu berfikir, siapa itu…haha. Masuk dalam sebuah ruangan menunggu nama terpanggil untuk mendapatkan nomor ujian, menoleh sedikit kebelakang. Hey berasa kenal, dinas di ICU kan, tapi nama.. ondeeh namaa.. Senyum-senyum saja teman itu melihatku berfikir keras mengingat namanya.

Pulang. Melewati sehari bersama bukit hijau, dengan seorang senior yang sedari tadi menahan tawa melihatku. Rumah. Kita sampai dengan keringat yang bercucuran, panasnya Kota Padang saat ini mengalahkan suhu-suhu sebelumnya. Terduduk di lantai kayu yang ditempati. Gelak tawa itu tak tertahankan lagi saat si kakak bercerita betapa lucunya saat aku kedapatan sedang berfikir keras melawan lupa. Tentang nama teman-teman yang luput dari memoriku.

Sorry friends, jika Allah masih panjangkan umur mengingatmu, dalam fikir harapku kamu tak terlupa lagi. Terima kasih telah mengingatku, seorang yang pura-pura teringat padamu. Afwan, Peacee…

photo

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kangen Syuting

Awalnya nemu berita di beranda..

Serasa ga percaya.. Lalu, disimaklah video yg fenomenal itu

***

Bagiku, itu sebuah penghinaan terhadap profesiku. Terlepas mereka mau cari sensasikah? pencitraankah? atau apalah-apalah yang mereka inginkan. Adalah menjadi seorang pemimpin, mesti tahu etikat berkomunikasi, etikat berbuat, jangan hanya jadi “hero” di tengah negri yang semraut. Baik memang menjadi seorang pemimpin yang fast respon, tapi jauh lebih baik menjadi seorang pemimpin yang santun pada rakyat.

Usut kita mengusut, adalah cerita tak sebenarnya yang diheboh-hebohkan. Tentang cerita tong sampah di pagi buta itu, rupanya tidak semua mereka yang tertidur, masih ada dokter yang berjaga, masih ada perawat yang lagi benerin infus pasien. Boleh kamu rasa jika ingin merasakan, mata yang dipaksa terbuka, fisik yang dikuatkan bekerja, wajah yang disketsa meramah 11 jam tanpa ada rehat sedikitpun, dan itu malam bukan di siang bolong.

Sebuah pernyataannya “resiko jadi kita”. hellloww,, kita juga manusia Sir. Adakah selama ini kita meronta menginginkan rumah dinas, tunjangan besar, pangkat dan jabatan, sertifikasi gaji, tidak Sir. Kita sudah memberikan yang terbaik dari yang kita bisa, perawat yang berdinas malam, kebayang ga suami dan anaknya di rumah bagaimana, dokter yang dinas sana-sini kepikir ga gaji mereka setara dengan kerjaannya.

Sedang mereka yang tertidur molor saat rapat Ibukota kenapa tak disidak pula. Sekalian saja sirami dengan air putih, biar BANGUN. Kita tak menuntut banyak dari negri ini, hanya menuntut sepotong kata “hargai, Sir“. Adalah emosi yang meledak-ledak saat profesi ini semakin diinjak-injak. Seandainya juga cerita itu benar, bahwa sejawat kami semua tertidur, tetap saja itu bukan contoh yang baik untuk dijadikan teladan bagi seorang pemimpin.

***

“Haha, mungkin lagi kangen syuting bapaknya ulia”. Sahut dokter jaga disini.

clapper

Dokter-Perawat. Kami adalah mitra. Jangan jadikan kami olok-olokan negri. Suatu saat jika anda perlu kami, maka bersikap santunlah, karena sakitnya fisik terkadang karena batin yang tak dirawat baik. Bisa jadi kurang dzikir apalagi kurang mikir. 

Posted in Potret Keperawatan | Leave a comment

Respect

Kagum dengan mereka yang bertitel tinggi tapi merendah, berpangkat tinggi namun merunduk, hingga tua pun ilmu itu masih ada. Adalah seorang pasien berumur kisaran 70an, fisik masih kuat berjalan, tanpa didampingi anak maupun mantu. Menyapa dengan salam, dan mendaftar dengan sopan.

Saat pengukuran tekanan darah:

“pak, tensinya tinggi.. 160/110”

“hah?? kok bisa”

senyum-senyum aku jawab “ya bisalah pak”

“kok bisa ya, saya ga ada makan santan-santan”

“hmm.. tidurnya gimana pak, ga tidur mungkin semalam”

” biasa saja, saya tidur jam 9, trus  bangun tahajud, tidur lagi jam steng  5 subuh”

“fakor usia kali pak, silahkan bapak konsul dengan dokter”

“oh, ya ya..”

 

Menerima obat:

“pak ini obatnya” asisten apoteker memanggil dari ruang sebelah

Si bapak pun menerima obat. ia lihat-lihat obat itu dan bertanya pada kami.

“dek, ini bukan obat saya”

“kenapa pak?”

“ini bukan obat saya, ini obat bapak Salman”

“iya, ini kan obat bapak. Salman”

“bukan.. its not my name..”

“yes, its ur name (terheran-heran)”

“ini tulisannya Salman, saya Saman”

“eh?*&%#…. hahhahah kami pun tertawa bersama

“oh mungin ibuk apotiknya khilaf pak”.

Respect. Kata yang pas menggambarkan karakter si bapak. Tak sama dengan beberapa pasien lain yang kutemui.  Mereka bergelar sarjana, berjabatan tinggi, dan selalu berbaju dinas kalo berobat. Bahasanya aduhai, jauh dari kata ahsan bahkan sombong. Ah, gelar siapa kan pandang. Bagiku hanya ada 2 gelar dimata Allah, beriman dan tak beriman. Untuk muda-mudi baiknya teladani mereka yang berilmu dan bertakwa. Ilmu dan iman itu beriringan. Makin soleh ia makin baik pula budi pekerti. Namun jika sombong  diri, makin buruk pula akhlak yang dinampakkan.

Pak, adalah kata terima kasih yang harusnya kuucapkan. Dari mimik wajah yang ramah, ibadah yang teratur, dan hidup yang terstrukur. Ah, jika tua nanti Allah masih kasih bonus kehidupan, sudah semestinya kita bersyukur lebih, tidak cukup hanya dengan lafadz hamdalah, harus dibuktikan dengan ibadah dan ketaatan. Karena bermuslim itu cermin. cermin bagi muslim lainnya untuk menjadi semakin takwa.

index

 

 

 

 

 

Posted in Ini Ceritaku | Leave a comment

IIII Romawi

Lama tak meraba intuisi tuk bertemu dengan ide-ide menginspirasi. Setelah seorang sahabat mengingatkan akan hal menyenangkan yang usang tak disentuh. Maka coretan tinta mana yang tak asyik digerakkan saat kertas putih riang menyapa kata. Dan Alhamdulillah, terbitlah sebuah antologi cerpen dengan 50 penulis terpilih. Untuk anda penyuka tulisan tak ada salahnya untuk membeli sebuah buku penuh imajinasi. Berikut kutipan cerpen berjudul IIII Romawi yang telah terbit dalam buku 03.30.

***

Hujan. Aku selalu menyukai suasana ini. Memandangi butir-butir hujan yang jatuh lembut. Menyapa sang tanah yang kebosanan tandus. Memercikkan hawa sejuk, menggelitiki jari jemari. Sudah lama Jakarta tidak hujan selebat ini, dan pula aku tak membawa mantel di motor ninjaku. Seperti mereka kebanyakan aku menunggui gerimis di depan bangunan-bangunan tinggi. Sebuah ruko bertuliskan Bimbel Cahaya Hati, aku berdiri sambil melipatkan tangan di dadaku.

“Maaf Mas, tolong jangan berdiri di depan pintu”, sapa seorang perempuan padaku.

“Maaf Mbak” ujarku membalas sambil berbalik ke belakang.

“Da Hamdan”. Perempuan berjilbab ini terkejut menatapku.

“Nurul, kamu..”. belum habis aku berkata-kata, Nurul memotongku.

“Silahkan masuk Da, di luar masih hujan”. Nurul membukakan pintu.

“Jadi kamu mengajar disini?”. Tanyaku penasaran.

“Ya da, selepas kuliah Nurul mendapat kerja di ibukota, sekarang Alhamdulillah bisa mendirikan bimbel privat dengan teman-teman, uda sendiri?”.

“Uda juga sudah lama merantau ke Jakarta Nurul, tepatnya 3 tahun yang lalu. Sekarang uda bekerja di sebuah bank swasta, ini baru saja pulang”.

 

“Bu Nurul, ada telepon” sahut sekretaris dari balik ruangan.

“Ya Sonya”. Nurul membalikkan badan.

“Sebentar ya da”. Nurul menoleh ke wajahku.

“Oh ya, Silahkan”. jawabku sambil mengangguk.

Aku memandang kosong ke depan. Entah angin apa yang membawaku berada di sini. Oh Tuhan, dialah Nurul, adik tingkat semasa SMAku dulu. Ia seorang junior berwajah tirus, yang sempat mengisi kehidupanku. Kehidupan dimasa putih-putih abu-abu.

***

13528148_904615416313447_7652684621743392507_o

 

Posted in Ini Ceritaku | Leave a comment

Terabaikan, lalu kembali

Sudah lama tak berkomunikasi lewat jari-jari yang mengetik riang. Memilih satu persatu kata untuk disuguhkan di depan layar. Seolah hanyut akan aktivitas klinik, aku tak lagi menyentuhmu. Duhai ide-ide berlarian di otak kanan. Kadang aku juga mengacuhkanmu, dirimu yang otomatis merangkai cerita saat melihat penyapu jalan, menciptakan judul puisi saat melihat keindahan alam, atau menggumam secarik artikel mini saat menonton berita. Maafkan aku, yang sering mengabaikanmu.

Dan kini aku rindu, begitu rindu untuk menulis apa saja. Ibarat hujan yang mengejarku tiba-tiba. Aku merasakannya sebagai kesejukan yang tak hingga. Menengadahkan wajahku pada langit dan berbisik aku mencintai hujan yang Allah turunkan. karenaNya bunga-bunga mekar, karenaNya rerumputan semakin hijau, karenaNya mataku berkedip merasakan indahnya belaian angin.

Aku seperti mendengar simfoni piano jika bersamamu. Yang kurasa indah, tak dirasakan oleh mereka dengan bahasa isyarat. Mengalun menawan membawaku pada suasana hati yang syahdu. Terima kasih telah menemaniku sedari kecil. Aku yang menyukai tulisan-tulisan bebas seolah hidup jika ku menuangkanmu dalam sebuah memori. Jika ku tak mendapatimu, maka ia akan berserakan, terlupakan dan tak bernilai.

Ah, dunia klinik. Rumah sakit, puskesmas, pasien, tugas menugas sungguh telah mengunci jemariku untuk menyapamu. Maafkan aku, kali ini sudah sedikit tenang. Dan aku bisa saja menyapamu di pagi, siang dan malam hari. Asssalamualaikum ide-ide yang sedang berlarian di otak kanan. Semoga selalu menjadi teman dalam diam dan senangku, teman dalam sunyi dan gundahku. Tetaplah seperti ini, mewarnai hariku dalam setiap moment yang tercipta.

U are not only my hobby, but more than a hobby.

adik_yana_oc_finish_by_cahaya_pemimpin-d3bazn3

Posted in Ini Ceritaku | Leave a comment

Ketika Sakit

Nikmat Allah yang sering terabaikan itu salah satunya nikmat sehat. Sehat, membuat kita lupa untuk tetap bersyukur. Malah semakin huru hara dengan aktivitas yang katanya terlalu padat. Alhasil.. ibadah seperlunya, tilawah seadanya, sedekah tak lagi ada. Boro-boro mau tahajud, badan yang letih di makan kesibukan akhirnya kesiangan. Boro-boro mau puasa, jajanan kiri kanan membuat mulut tak tahan ingin mengunyah.

Ya.. begitulah ketika kita sehat. Semua nikmat lain ikut dirugikan. Maka apalagi yang kita doakan jika sedang sakit?

“Ya Allah berilah kesehatan agar aku bisa lapang beribadah””

“Ya Allah berilah kesehatan agar aku bisa bekerja dengan tenang”

Sedang sehat saja kita masih melanggar hak-hak Allah yang mestinya ditunaikan. Duhai muslim, selagi sehat gunakan fisikmu untuk bekerja disiang hari., dan tenangkan batinmu untuk bermunajat dimalam hari. Ketika sakit, tak ada lagi upaya untuk mencetak poin2 ibadah, yang ada hanyalah badanmu yang terbaring lemas di tempat tidur. Sedang diri berharap bangkit untuk menangis disepertiga malam.

5-sebelum-5

Posted in Ini Ceritaku | Leave a comment

Perihal

Ini bukan kisah, bukan juga sebuah cerita, hanya oret-oret tangan yang ingin lukiskan sebuah fenomena. Bahwa fitrahnya kita sudah semestinya mengetahui. Bukan hal tabu dan sesuatu yang kita tertawakan layaknya dahulu. Namun perihal ini seperti menggerogoti, ibarat luka diabet dari awalnya sebesar jagung meluas hingga sekepal tangan. Aku hanya ingin berpendapat bahwa aku kurang setuju dengan tata cara mereka membahasakan.

Cukup dibicarakan di dalam hati atau perlu mencuapkan silahkan mengambil kertas dan luapkan disana. Bukan berarti tak boleh mengekspresikan,hanya saja banyak mata, banyak hati, banyak kepala yang bisa bersuudzan dengan isyarat makna yang dibuat. Untuk apa Allah ciptakan malam yang panjang, jika tak ada makhlukNya yang bersujud mencurahkan keluh kesah. Untuk apa Allah ciptakan mata jika bukan untuk menangisi dosa-dosa kecil yang makin menggunung.

Kawan, mungkin kita lupa umur semakin bertambah. Berbanding dengan dahulu, seumuran begini tentunya sudah menjalankan sunnah. Sedang kita masih haus mengejar prestasi, karir, dan bisnis. Tak masalah kita saling berbagi ilmu untuk memperkaya wawasan. Maka nanti tak terlalu meraba dan kebanyakan bingung.

Tentunya kita tak tahu kapan Allah akan melabuhkan kapal diperhentiannya. namun sebelum ia berlabuh silahkan isi dengan berbagai bekal. Hingga kita tak kelaparan di tengah samudera. Tak tahu ombak yang akan datang setinggi apa. Terpenting keta’atan kepada Allah tak boleh lepas. Dan beginilah cara Allah mengajarkan makhluknya agar tak salah jalan di sebuah persimpangan :

berlalu1

“… dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya”. QS An Nazi’at 40-41.

Posted in Ini Ceritaku | Leave a comment